Tampilkan postingan dengan label KARYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KARYA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

(PUISI) TAMAN HITAM




Oleh Rinjani Jannahve
 
Ragu bergerak maju mengulur waktu
Terpisah sekat tak kasat mata
Lama ‘ku tak berteman
Lalu berkawan abu

Bermenung awan kelam gerimis tipis
Taman hitam berfajar di pikiran
Matamu, tertawa
Serumpun persembahan terbakar sudah

Aurora bertirai cahaya
Membeku diam diutara sana
Pasrahku bak Virga
Sang hujan tak jadi karna terhenti di tengah Udara

Dan inilah
Pelangi putih persembahan akhirku
Tak berwarna, pias pasi
Pucat terbujur bersama kaku tubuhku


Sabtu, 29 Juni 2013

CINTA PULANG KEPADA CINTA



 
http://www.google.com/imgres?imgurl=http://www.hdwpapers.com/walls/sunrise_
 
Oleh Nina Ummu Sekar

kepada fajar,
yang harus berpisah dengan malam,
ada tirai air mata
yang terjatuh basahi pusara,
rumput-rumput menari bersama kamboja,
pasrah diempas angin yang kadang tak tereja,
pun batu nisan yang beku dalam lantunan ayat-ayat pilu,
semua melarung dalam denyut-denyut kelu

kepada senja,
yang padanya tertitip sekeping asa,
t’lah terenggut nyanyian jiwa dari raga,
bersama senyum malaikat maut yang datang menyapa,
dan tanah pun mengucap "selamat datang ke rumah nyata"

kepada hati yang pecah berserak,
air mata tak sanggup kembalikan harap,
keranda-keranda telah mengusung cinta kembali kepada Dia

bandung, 28 april 2013

FAJAR KADZIB BULUH RINDU


https://www.facebook.com/susan.a.hermawan?hc_location=timeline


Oleh Susan Arisanti
 
kala kusibak tirai kastil
fajar kadzib menyapa malu
mengintip hitamku bersama izrail
kudendang takbir buluh rindu

oh, fajar kembar! tak tertukar, kembar menukar
tidaklah kelakar

kupaut kuning cerah
semai jiwa hangat dalam angkasa
ngengat bersama lazuardi subuh

bawah awang semburat
kuulur tangan nan hanyut
ya, di sini cinta pisah hilang bersama
ini rodaroda hayat insan
aku pasrah
mengalah, bukan kalah
kurelakan fanaku dijemput maut
oh, esokku? aku akan menang.








SENYUM TERAKHIR



Uje. Dok: Kapanlagi.com



(Persembahan buat: Ustadz Jefri Albukhori)

Senja di batas fajar
laut menderu gelombang
angin menjejak tirai badai
Langit yang terpatah
dan malaikat membawa keranda
tentang ketiadaan
tentang makna perpisahan
tentang ayat di jejak malam
Pelangi pasrah dalam diam
hujan menoreh ratap
bersama kidung tangis abadi
menggores perih mimpi
Engkau pergi bersama rindu
purnama terbaring di pangkuan senja
Meski ada riak air mata
bersama rekah mawar
kembang senyum mengantar pusara
basah di akhir abadi cinta
Akhirmu,
selaksa senyum pelangi
Sumenep, 28-04-2013

Senin, 29 April 2013

Sebab Aku Rumaisha. Oleh Gemintang Halimahtussa'diah Batubara



Pedih. Meski senyum kusunggingkan di hadapan mereka. Walau aku selalu mengangguk ketika diminta untuk tabah, tetap saja hati ini terasa amat pedih. Hanya tiga hari menjelang ujian nasional, aku mendapat kabar abahku meninggal dunia. Segera kutinggalkan asrama untuk menuju rumahku yang terletak di Cibiru, Bandung.
  • Selepasnya, tak sedikit pun aku mampu beronsentrasi untuk belajar lagi. Yang terpikir hanya bayangan saat terakhir kali aku menghabiskan waktu bersama Abah. Saat itu kami banyak bercanda, banyak pula berdiskusi untuk menentukan tempat kuliah yang tepat. Ya, Allah, sungguh dada ini terasa sesak mengenangnya.
     
  • Sehari sebelum ujian, aku kembali ke asrama meski sebenarnya aku masih ingin menemani Ummi yang tengah berduka. Sorenya, kucoba untuk membuka buku berisi soal-soal UN. Huft..., hanya dua menit saja aku tahan mengerjakan soal latihannya. Selebihnya, kuempas saja buku itu di atas meja belajar. 'Tuk mengusir jenuh, kucoba membolak-balikkan majalah islami yang terletak tak jauh dari bukuku. Mataku terarah pada satu halaman yang bertuliskan nama Rumaisha. Itu kan namaku. Penasaran, aku pun iseng membaca tulisan yang bertuliskan nama yang sama denganku itu.
    Di situ dikisahkan sosok Rumaisha atau Ummu Sulaim. Ketika ia mengetahui putranya meninggal karena sakit, ia tetap berusaha menabahkan dirinya. Ia pun menyadari suaminya pasti akan sangat terpukul dengan kejadian itu. Demi menjaga hati suaminya, ia sengaja menghidangkan makanan, memakai wewangian, dan mempercantik diri. Lantas, malam itu pun ia melakukan hubungan intim bersama suaminya. Setelah melihat suaminya tenang dan bahagia, Rumaisha baru memberitahukan meninggalnya sang putra.
    “Subhanallah.” Aku berdecak kagum. Rumaisha, sahabat Rasulullah yang bernama sama denganku itu, ia sanggup menggembirakan suaminya begitu rupa padahal hatinya pun pasti sedih mendengar kabar kematian putranya. Namun, Rumaisha masih sanggup membahagiakan suaminya agar ia tak begitu merasakan kepedihan.
    Membaca kisah itu, sungguh membuat semangat di dalam hatiku kembali terlecut. Aku ingin berusaha tetap tegar dan berkonsentrasi belajar agar dapat lulus UN dengan nilai memuaskan. Tiap kali bayangan abah muncul, aku kembali teringat pada sosok Rumaisha. Aku ingin terus belajar, aku harus semangat. Aku harus bisa membuktikan kesedihan hatiku takkan mampu membuatku patah semangat. Sebab aku adalah Rumaisha, gadis tegar yang penuh semangat!
  • Gemintang Halimatussa'diah Batubara-Naskah ini pemenang Quizania di grup Pedas 20-21 April 2013.

PEDAS BLOG:



Berisi berbagai informasi pengetahuan umum dan sastra, buku karya para penulis anggota grup PEDAS. Serta kegiatan Grup Pedas-Penulis dan Sastra.

Sekaligus sebagai media informasi PEDAS PUBLISHING. Sebagai penerbit Indi yang menerima naskah-naskah untuk diterbitkan sesuai keinginan si penulis. Dan buku-buku terbitan PEDAS PUBLISHING dapat diperoleh dengan sistem Print On Demand (POD). Lini penerbitan sudah mulai beroperasi. Ditandai dengan penerbitan buku antologi 135 Puisi Romantis: Cinta Dalam Empat Dimensi

 
Design by alisakit | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Cap Kaki Tiga Setia Manfaat