
01.36

Unknown
No comments
Oleh Rinjani Jannahve
Ragu bergerak maju mengulur waktu
Terpisah sekat tak kasat mata
Lama ‘ku tak berteman
Lalu berkawan abu
Bermenung awan kelam gerimis tipis
Taman hitam berfajar di pikiran
Matamu, tertawa
Serumpun persembahan terbakar sudah
Aurora bertirai cahaya
Membeku diam diutara sana
Pasrahku bak Virga
Sang hujan tak jadi karna terhenti di tengah Udara
Dan inilah
Pelangi putih persembahan akhirku
Tak berwarna, pias pasi
Pucat terbujur bersama kaku tubuhku

05.33

Unknown
No comments
 |
| http://www.google.com/imgres?imgurl=http://www.hdwpapers.com/walls/sunrise_ |
kepada fajar,
yang harus berpisah dengan malam,
ada tirai air mata
yang terjatuh basahi pusara,
rumput-rumput menari bersama kamboja,
pasrah diempas angin yang kadang tak tereja,
pun batu nisan yang beku dalam lantunan ayat-ayat pilu,
semua melarung dalam denyut-denyut kelu
kepada senja,
yang padanya tertitip sekeping asa,
t’lah terenggut nyanyian jiwa dari raga,
bersama senyum malaikat maut yang datang menyapa,
dan tanah pun mengucap "selamat datang ke rumah
nyata"
kepada hati yang pecah berserak,
air mata tak sanggup kembalikan harap,
keranda-keranda telah mengusung cinta kembali kepada
Dia
bandung, 28 april 2013

05.25

Unknown
No comments
 |
| https://www.facebook.com/susan.a.hermawan?hc_location=timeline |
kala kusibak tirai kastil
fajar kadzib menyapa malu
mengintip hitamku bersama izrail
kudendang takbir buluh rindu
oh, fajar kembar! tak tertukar, kembar menukar
tidaklah kelakar
kupaut kuning cerah
semai jiwa hangat dalam angkasa
ngengat bersama lazuardi subuh
bawah awang semburat
kuulur tangan nan hanyut
ya, di sini cinta pisah hilang bersama
ini rodaroda hayat insan
aku pasrah
mengalah, bukan kalah
kurelakan fanaku dijemput maut
oh, esokku? aku akan menang.

05.16

Unknown
No comments
 |
| Uje. Dok: Kapanlagi.com |
(Persembahan buat: Ustadz Jefri Albukhori)
Senja di batas fajar
laut menderu gelombang
angin menjejak tirai badai
Langit yang terpatah
dan malaikat membawa keranda
tentang ketiadaan
tentang makna perpisahan
tentang ayat di jejak malam
Pelangi pasrah dalam diam
hujan menoreh ratap
bersama kidung tangis abadi
menggores perih mimpi
Engkau pergi bersama rindu
purnama terbaring di pangkuan senja
Meski ada riak air mata
bersama rekah mawar
kembang senyum mengantar pusara
basah di akhir abadi cinta
Akhirmu,
selaksa senyum pelangi
Sumenep, 28-04-2013
 |
| http://sin.stb.s-msn.com/i/40/7AE125AA945D6037779D4475F7AA45.jpg | |
Bergulung ombak masalah di LAUTAN intrik
Kambing hitam menjadi target politik
Silang pendapat bukan lagi ungkapan demokrasi
Tapi sekedar wacana kelicikan BERSELIMUT aksi
Gagap teknologi bukan lagi kendala
Kebodohan disengaja
MENYELIMUTI hati
Digulirkan, ditendang bagai bola
ke LAUTAN ego tanpa
bakti
Saat pesta rakyat, tanah lapang menjadi LAUTAN manusia
janji surga diteriakan, slogan omong kosong didengungkan
peluh dan air mata tumpah tersia-sia
jabatan didapat, kepentingan khalayak terlupakan
Menagih, berharap agar pejabat menepati janji
Bagai mengasinkan air LAUT
Takkan tawar disulingi anggaran hasil korupsi
Karena dosa sudah MENYELIMUTI nurani
Kreo, 22 April 2013
Terinspirasi tema PEDAS Galeri Puisi
Laut dan Selimut
PEDAS BLOG:
Berisi berbagai informasi pengetahuan umum dan sastra, buku karya para penulis anggota grup PEDAS. Serta kegiatan Grup Pedas-Penulis dan Sastra.
Sekaligus sebagai media informasi PEDAS PUBLISHING. Sebagai penerbit Indi yang menerima naskah-naskah untuk diterbitkan sesuai keinginan si penulis. Dan buku-buku terbitan PEDAS PUBLISHING dapat diperoleh dengan sistem Print On Demand (POD). Lini penerbitan sudah mulai beroperasi. Ditandai dengan penerbitan buku antologi 135 Puisi Romantis: Cinta Dalam Empat Dimensi